Daily Archives: 1 April 2009

Masih Banyak Tanda Tanya Belum Terjawab


SEBUAH rumah di Jalan Ciasem, Cikini (Jakarta Pusat), menjadi seperti ruang praktik dokter. Tempat yang menamakan diri  Health Care Sanjiwani ini menyelenggarakan pengobatan prana, reiki, kristal terapi atau psikoterapi.Siapa saja boleh datang, dengan membayar Rp 30.000 untuk sekali pertemuan. Disediakan juga foto aura Rp 170.000, konseling Rp 50.000, bimbingan meditasi Rp 150.000.

Bagi yang mau lebih murah, mungkin bisa memilih tempat di kawasan Sunter, Jakarta Utara yang khusus membuka praktik penyembuhan khusus dengan metode prana. Biayanya Rp 20.000.

Di tempat yang lain, malah tanpa biaya sama sekali. Yayasan Mahameru, di Gedung YTI, Jalan Gatot Subroto (Jakarta) membuka kesempatan pengobatan reiki setiap Senin sampai Jumat, secara gratis. Begitu juga di Bogor, ada jadwal pengobatan metode cikung tanpa biaya, tiap hari Minggu.

Kalau soal biaya yang jadi pertimbangan, orang tinggal memilih mana tempat yang ingin didatangi. Tetapi seperti juga dokter, orang pergi berobat memilih dokter yang dirasa cocok.

Prana, reiki atau cikung memang lahir dari sumber yang berbeda, meski mereka sama-sama mengandalkan energi alam. “Sejak ribuan tahun lalu sebenarnya orang sudah mengenal penggunaan energi ini dengan bahasa yang berbeda-beda di banyak tempat,” kata Indra Gunawan.

Menurut Ismail Ishaq, pada awalnya reiki yang mula-mula dikenal publik adalah Usui Reiki yang konon merupakan suatu ilmu penyembuhan yang berasal dari Tibet dan sempat terlupakan. Namun, ilmu tersebut kemudian “ditemukan” kembali oleh Dr Mikao Usui. Semenjak itu muncul bermacam-macam jenis reiki.

Reiki ada beberapa tingkatan, yaitu Usui Reiki I, II, dan III. Penghusada yang telah mencapai tingkatan ketiga inilah yang biasa disebut sebagai Reiki Master. Seorang penghusada untuk mencapai tingkatan Reiki Master, itu tergantung pada Reiki Masternya. Ada yang memberikan Usui Reiki I, I dan III secara bertahap dan mereka ini digolongkan sebagai tradisional Reiki Master. Sedangkan di sisi lain, ada yang memberikan kesemua tahapan tersebut di dalam satu penyelarasan (attunement).

Di prana, berlaku tingkatan yang lain. Ibarat rumah tumbuh, kata Indra Gunawan, orang tinggal memilih mana yang akan diambil sesuai keperluan. “Di sini ada prana dasar, psikoterapi, kristal, bela diri psikis, kriya sakti, dan arhatik yoga yang di Indonesia masih tahap prepartori,” kata Indra tentang tingkatan itu.

Sebenarnya makna prana itu sendiri adalah energi, jelas Janti Atmodjo, yang dipakai dalam penyembuhan adalah bio energi manusia. Manusia itu punya tubuh fisik yang bisa dilihat dan dilapisi oleh suatu lapisan yang dinamakan tubuh energi. Tubuh energi inilah yang memberikan kehidupan kepada tubuh fisik. “Dari tubuh energi inilah kita bisa memperbaiki kalau ada keluhan gangguan secara fisik. Penyembuhan dengan prana ini tidak perlu disentuh, karena tubuh energi ini lapisannya ada di badan kita,” ujar Janti.

“Untuk menjadi penghusada prana tidak perlu ada attunement. Kita ketahui saja mekanisme itu. Tubuh kita ini punya pusat-pusat energi yang disebut cakra, ada tujuh cakra. Setiap cakra itu menguasai, mengontrol dan memberi energi pada bagian-bagian tertentu. Dengan mengetahui itu, prinsip dasarnya ada dua, yaitu membersihkan dan memberi energi atas dasar bahwa manusia itu mempunyai daya penyembuhan diri sendiri,” papar Janti.

Dengan prana ini, kemampuan untuk menyembuhkan diri sendiri itu dipercepat dengan pemberian energi untuk memulihkan. “Ketika kita sakit, tubuh energi kita berarti tengah mengalami gangguan, entah itu tersumbat atau pun kotor. Maka jika tubuh energi ini dibersihkan dan dikuatkan maka ia akan berpengaruh positif pada tubuh fisik,” jelas Yanti. Sebaliknya, kita juga harus menjaga tubuh fisik kita dengan diet yang seimbang, olahraga yang teratur, istirahat yang cukup. Dengan sendirinya jika tubuh fisik kita baik, maka tubuh energi pun akan bagus pula.

Janti mengkhususkan diri untuk menangani pasien yang menderita gangguan-gangguan psikologis. “Karena saya seorang konselor, saya lihat banyak penyakit kronis yang punya latarbelakang psikologis sehingga kalau itu tidak dituntaskan maka sembuhnya akan lama. Jadi kita harus buang akarnya,” kata Janti yang gelar doktornya di bidang metafisik ia dapatkan dari Amerika Serikat.

  • **

SEMUANYA mengklaim menggunakan energi alam. “Hanya caranya saja yang berbeda,” begitu keterangan para pakar prana, cikung atau reiki.

Cikung umpamanya, pada mulanya sangat umum, yaitu segala latihan untuk menguasai ci (tenaga vital). Cabang-cabangnya kemudian berkembang dengan macam-macam nama, tetapi tetap bersumber pada kekuatan energi alam.

Bagaimana energi alam ini menyembuhkan penyakit-bahkan penyakit yang berat-masih sulit diterangkan, bahkan oleh pelaku-pelaku penyembuh.

Kesulitan untuk memberi penjelasan ini bukan alasan untuk mundur. Karena kalau yang dicari bukti, sudah ada yang cukup dikenal orang lewat atraksi-atraksi ilmu bela diri. “Mereka menggunakan kekuatan pikiran untuk bisa menembus kaca dengan jarum misalnya. Dan itu bukan magik,” kata Frans Chai.

“Banyak kasus yang saya juga tidak bisa menerangkan. Kita jalankan energi dalam badan sehingga organ bisa berfungsi lebih baik,” lanjutnya.

Penyakit mag, migrain, termasuk penyakit yang menurut pengalamannya bisa disembuhkan dengan latihan cikung. “Ada yang sudah 19 tahun migrain dan harus minum obat terus, setelah beberapa kali latihan sembuh,” katanya.

Bahkan seingatnya ada sejumlah pasangan yang tidak punya anak sampai 10 tahun perkawinan, berhasil mendapatkan anak setelah mengenal cikung. “Sudah waktunya saja mungkin, saya sendiri tidak bisa memastikan,” katanya.

Bagaimana pula bisa menjelaskan hilangnya kista dalam kandungan tanpa operasi? “Ini terjadi. Paling tidak pengakuan orang yang pernah datang ke sini kepada saya,” ujar Frans Chai.

Hal demikianlah yang khas dalam pengobatan yang menggunakan metode non Barat. Karena, kata dokter Budi, berbeda dengan kedokteran Barat, “Di sini kami tidak ada target.”

Artinya, dalam melakukan penyembuhan reiki tidak boleh berpikiran target agar pasien sembuh. Dengan kata lain harus pasrah.

Susahnya lagi, menurut Budi, ketika melakukan proses pengobatan, dia sama sekali tidak mengetahui apakah energi yang disampaikan masuk. “Karena saya sendiri tidak bisa merasakan. Saya cuma membayangkan saja. Kadang-kadang bayangan itu ada, tapi saya sendiri tidak yakin apakah itu bayangan benar ada atau bayangan itu muncul karena upaya saya membayangkan,” katanya. “Lain dengan rekan saya yang mempunyai kemampuan luar biasa. Ketika mengobati dia bisa melihat jalannya energi itu, apakah masuk atau tidak,” tambah dokter berusia 37 tahun ini.

Di balik cerita-cerita manis tentang keberhasilan, Budi mengakui pasti sekian banyak pula orang yang sudah mencoba tetapi gagal. Apalagi pasien yang datang tidak terdata dengan baik. Mereka yang tidak datang lagi, bisa dua kemungkinan, sudah sembuh atau bisa juga tidak. “Siapa yang bisa tahu kalau begini?” katanya.

Setiap penyakit, lama dan proses penyembuhannya berbeda-beda, kata Janti Atmodjo. “Pernah ada satu pasien yang sakit jantung koroner dimana terjadi penyempitan pada pembuluh jantungnya, ketika diobati dengan prana yang terjadi bukannya penyempitannya hilang, melainkan tumbuh pembuluh-pembuluh kolatral, sehingga aliran darah jantungnya bisa menyebar lagi lebih baik. Itu memakan waktu satu-dua bulan (dalam satu minggu dua-tiga kali) penyembuhan prana,” kata Janti.

  • **

KETIKA harga-harga obat semakin mahal, ketika pelayanan rumah sakit masih menjadi barang mewah, pengobatan alternatif tampaknya menjadi salah satu solusi yang dipilih masyarakat.

Buat mereka yang mampu, pengobatan alternatif bisa dijadikan serep saja. Dan itu tidak ditentang oleh para pelaku penyembuh yang menggunakan pengobatan energi alam.

Bahkan di antara pelaku reiki, prana, dan cikung sendiri, tidak ada pantangan untuk menggunakan lebih dari dua cara. “Masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan,” kata Yan Nurindra dari Yayasan Mahameru.

Tentang hal ini, dokter Frans Chai mengatakan, “Agar lilin kita lebih terang, jangan mematikan lilin orang lain.”

Ibarat mobil, jelas Yan, prana seperti mobil manual, sedangkan reiki adalah mobil otomatis. Untuk membersihkan aura yang kotor, prana mempunyai efektivitas yang lebih baik dibanding reiki. Pada mereka yang sakit, biasanya ditemukan aura yang kotor pada bagian-bagian yang sakit.

“Pada reiki tidak perlu tahu tempatnya, dia akan berhenti pada level tertentu ketika menemukan tempat itu,” jelas Yan.

Dia berpendapat, penyakit itu pada dasarnya disebabkan adanya ketidakselarasan eterik. Mereka yang mempunyai penyakit kanker menurut kaca mata ini, memiliki aura yang berwarna merah kotor, yang bisa dilihat lewat kemampuan membaca aura.

Penyembuhan penyakit perlu melibatkan pasien. Kalau pasiennya tidak percaya, kata Yan, prosesnya akan lebih sulit. “Karena ketidakpercayaan itu memberi energi negatif, sehingga menghambat proses,” demikian penjelasan Yan.

Namun ini bukan berarti setiap pengobatan membutuhkan persetujuan pasien. Mereka yang sudah tidak berdaya misalnya, pasti tidak mungkin diminta persetujuan. “Selama tidak mempunyai persepsi negatif tidak ada masalah,” jelas Yan Nurindra.

Dalam bahasa yang lain, Indra Gunawan mengatakan, penyembuhan di samping tergantung pada keahlian si penyembuh, juga tergantung pada reseptif tidaknya pasien. “Karena pada akhirnya bukan cuma energy healing, tetapi juga spiritual healing.” (lok/ret)

sumber: Kompas/arbain rambey

NIKMATNYA HIDUP DALAM KESEIMBANGAN


Mengapa kita, manusia, mesti hidup dalam keseimbangan? Jawabnya, karena hanya dalam keadaan yang seimbang tersebut aliran energi kehidupan manusia ( mikro kosmos ) dapat mengalir seirama dengan aliran energi kehidupan alam semesta ( makro kosmos ). Dan jika sudah terjadi keselarasan antara mikro kosmos dan makro kosmos, maka seluruh potensi bawah sadar murni yang dimiliki manusia akan muncul dan bisa diolah secara maksimum. Salah satu cara termudah untuk mendapatkan keseimbangan dengan segera adalah dengan melakukan Terapi Aura.

Semua rangkaian proses dalam terapi aura sebenarnya bertujuan untuk mengembalikan keseimbangan fungsi kerja semua unsur dalam diri manusia secara alami. Pada proses TERAPI AURA yang rasional, natural, dan Ilahiah, dilakukan penyelarasan untuk mengubah kehidupan anda untuk menjadi lebih baik, cemerlang dan sukses. Hasilnya, tujuh unsur alami tubuh anda akan menjadi aktif dan memancarkan kemilau aura maksimal. Hasil ini dapat ditest dengan foto aura, dimana anda terlihat memiliki daya pancaran magnetis tingkat tinggi, wajah menjadi semakin indah, menawan, cerah, bercahaya, simpatik, awet muda, anggun, elok dan mempesona. Dengan memiliki pancaran medan magnet dahsyat anda bisa membuat siapapun kagum dan terlena.

Selain berfungsi membentuk pesona diri dan menarik simpati, Terapi Aura juga bermanfaat meluluhkan hati yang keras sehingga menjadi sayang, meredam perselisihan, menundukkan lawan bisnis,menunjang dan memperlancar karir atau bisnis, memperoleh sukses masa depan gemilang, memiliki karisma tinggi, wibawa dan pengaruh yang besar, sehingga musuh, atau atasan anda yang kejam tak berperikemanusiaan, pemarah, cerewet serta membenci dan memusuhi anda, akan berbalik menjadi sayang, segan, santun, lapang dada, menghormati, menghargai dan selalu memberikan perhatian khusus kepada anda serta menjadi sahabat anda.

Terapi Aura yang baik dan benar, akan mengembangkan dan mengolah potensi bawah sadar manusia TANPA menggunakan “unsur-unsur” atau sesuatu yang berasal dari luar diri manusia – seperti jin, susuk, sihir, dll yang bersifat negatif atau musyrik (Ya iyalah, hari gini pakai jin, ke laut ajee!). Sehingga hasil yang nantinya diperoleh merupakan hasil yang murni dari dalam diri manusia.

Selamat mencerahkan aura anda dan meraih sukses!

Copyright ©2009 by Dr. Prabowo E.K

Powered by Allah Azza wa Jalla, distributed by
AURA NUSANTARA
The Power of Nawaitu
“Niat-Yakin-Pasrah-Wujud”
Ijin DepKumDang no 73/2011/IV
Padepokan: Dkh. Kuripan RT 01 RW 01,
Kec. Mijen, KOTA SEMARANG
Telp. 024 7064 5776, 081 805 979 159
081 229 536 911 (No SMS)
Fax. 024 76671605
GURU BESAR: GMA dr. PRABOWO E.K

Mengupas Terapi Aura menurut ilmu Fisika


SEBAGIAN masyarakat umumnya masih memandang terapi yang memanfaatkan tenaga dalam/prana/bioenergi seperti Nampon, Satria Nusantara, Prana Sakti, Sinlamba, dan banyak perguruan sejenis lainnya yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia, sebagai ilmu yang sarat hal mistik dan di luar nalar manusia. Karena itu, keberanian Nampon menyeminarkan fenomena tenaga prana dari sudut pandang ilmu fisika dan menghadirkan guru besar fisika teoretis ITB Prof Pantur Silaban, merupakan hal yang amat positif.

NAMPON dan sejenisnya adalah salah satu kekayaan asli budaya Indonesia yang perlu dilestarikan dan digali eksistensinya. Ilmu Nampon sendiri berkembang sejak 1932. Tercatat nama besar seperti Bung Karno pernah belajar ilmu ini, saat menjadi mahasiswa THS (sekarang ITB) di Bandung. Fenomena tenaga prana pada beberapa perguruan sering dikaitkan dengan terpentalnya si penyerang ketika berusaha menyerang seseorang yang memiliki tenaga tersebut. Guru besar Satria Nusantara (SN) Maryanto (1990), menjelaskan gejala tenaga prana dengan pendekatan teori medan Elektromagnetik (EM). Si penyerang memberikan frekuensinya yang berbanding lurus dengan energi kepada yang diserang. Akibatnya, terjadi penguatan amplitudo yang akan memperbesar energi balik ke penyerang dan menyebabkan gangguan kepada yang bersangkutan, sesuai intensitas energi yang diaktifkan.

PENJELASAN tenaga prana dari sudut pandang ilmiah pada beberapa perguruan sejenis di Indonesia umumnya mengikuti teori gelombang EM di atas, di mana mekanisme penjalaran tenaga prana dijelaskan melalui interaksi berdasarkan jarak (action at distance) yang memerlukan pengertian medan (besaran fisis yang mempunyai nilai di setiap titik dalam ruang) dan gelombang sebagai perantaranya. Untuk membuktikan kebenaran teori EM, medan energi pada pelaku tenaga prana harus dapat diukur dan dinyatakan secara kuantitatif. Faktanya, sampai saat ini belum ada hasil ilmiah yang dapat menunjukkan kebenaran ide tersebut, walaupun pendekatan dengan model EM adalah yang tertua dipikirkan manusia sejak dahulu (Cazzamalli, 1925). Kelemahan penjelasan dengan mekanisme ini terletak pada proses rambatan gelombang EM yang memerlukan jeda waktu, sedangkan fenomena tenaga prana sendiri pada praktiknya tidak terbatas oleh adanya ruang dan waktu. Dengan demikian, perlu dicari mekanisme yang lebih representatif untuk menjelaskan fenomena tenaga prana. Beberapa ahli fisika dan psikologi mengajukan beberapa konsep seperti Model Entropi dan Proses Acak (Gatlin, 1972), dan Model Perwakilan Ruang Hiper (Feinberg, 1967, 1975). Bahkan ada yang lebih jauh lagi dengan model yang dinamakan Kecerdikan Jagat Raya (Universal Intelligence). Model ini mengatakan bahwa eksistensi pikiran manusia melingkupi semua ruang dan waktu. Apa yang ingin diwujudkan dalam ruang dan waktu dapat diprogram pikiran manusia.

DARI semua model di atas, penulis tertarik dengan Model Holografik yang dikembangkan pakar fisika David Bohm dan pakar psikologi Karl Pribram (1971,1975,1976). Mereka menyimpulkan bahwa informasi di alam ini bukan merupakan fungsi ruang dan waktu, tetapi dalam bentuk “getaran” yang dalam ilmu Fisika diwakili dengan persamaan gelombang dengan amplitudo dan frekuensi masing-masing. Kesadaran manusialah yang melakukan “Transformasi Fourier” (sebuah konsep matematika yang dapat memetakan semua proses fisik di alam dalam bentuk frekuensi dan amplituda serta kelipatannya) agar dapat mewujudkan informasi tersebut ke dalam ruang dan waktu. Penjabaran lebih lanjut model ini adalah kesadaran manusia (pikiran) dapat mengambil semua getaran yang ada di alam. Kemudian melalui proses transformasi tenaga prana, abstraksi dapat diwujudkan ke dalam ruang dan waktu. Dengan mengikuti perkembangan model fisika di atas, pemahaman pada mekanisme tenaga prana tidak lagi terbatas pada dimensi yang sempit, hanya sebatas ruang dan waktu, melainkan juga pada dimensi yang lebih luas yang menyangkut wilayah esoterik dan dimensi kesadaran yang hanya dimiliki manusia. Oleh karena itu, diperlukan pengertian ilmu fisika dan cabang disiplin ilmu lainnya yang lebih komprehensif. Dengan kata lain diperlukan sebuah konsep yang dapat menjelaskan segala sesuatu di alam semesta berdasarkan teori tunggal. Teori tersebut dalam ilmu fisika dikenal sebagai A Theory of Everything.

ALBERT Einstein menghabiskan waktu lebih dari 30 tahun sisa hidupnya untuk membangun teori yang dapat menggabungkan empat gaya dasar yang berlaku di alam semesta: gravitasi, elektromagnetik, dan dua buah gaya nuklir, kuat dan lemah. Sebuah teori yang diharapkan dapat menjelaskan proses terjadinya “dentuman besar” (big bang) pada awal evolusi, fisika dalam partikel atom dan semua hal-hal mikroskopik. Namun demikian, misi itu sampai akhir hayat hidupnya bahkan sampai saat ini belum juga tercapai. Kompatriot Einstein berusaha menciptakan teori tersebut dengan menggabungkan teori relativitas (untuk menjelaskan gravitasi) dan fisika kuantum (untuk gelombang elektromagnetik dan 2 gaya nuklir, kuat dan lemah). Dua hal yang saling berlawanan, yang satu berkisar pada hal besar seperti galaksi, quasar, dan yang satunya lagi hal kecil di dunia sub-atomik, hal yang diskrit seperti paket energi disebut kuanta, ternyata gagal setelah 50 tahun berusaha mewujudkan A Theory of Everything.

DEWASA ini para pakar fisika berusaha mendekatinya dengan pendekatan lain. Ada Stephen Wolfram dengan teori Automata Selular dan Michio Kaku dengan pendekatan perwakilan ruang Hyperspace. Dalam kaitannya dengan pemahaman pada beberapa model yang telah dipaparkan sebelumnya, mungkin buku Michio Kaku (1994) yang berjudul Hyperspace: A Scientific Odyssey Through Parallel Universes, Time Warps and the Tenth Dimension, dapat menjelaskan mekanisme tenaga prana lebih baik lagi dalam usaha perumusan teori di atas. Kaku mendapatkan idenya dari penemuan Einstein tahun 1915 yang mengatakan bahwa alam semesta terdiri dari empat dimensi: ruang dan waktu yang berkembang. Kelengkungannya menyebabkan “gaya” yang disebut “gravitasi”. Kemudian Theodore Kaluza pada tahun 1921 meneruskan riset Einstein tersebut dan mengatakan bahwa riak pada dimensi ke “lima” dapat dilihat sebagai “cahaya”. Bagaimana dengan dimensi yang lebih besar dari lima? Kaku memperkenalkan teori yang disebut “superstring”. Jadi kelengkungan yang terjadi pada ruang dan menyebabkan gravitasi merupakan paket kecil dari “string yang “bergetar” dan “beresonansi”. Demikian juga cahaya yang merupakan riak dari dimensi ke-5 adalah komponen “string” lainnya. Dengan begitu, empat gaya dasar tadi dapat digabungkan dan peristiwa di dalamnya menjadi dimensi yang lebih besar: 10 dimensi. Dengan 10 dimensi itu Kaku berhipotesis bahwa semua proses yang terjadi sehari-hari-termasuk fenomena tenaga prana-dapat dijelaskan.

PERKEMBANGAN ilmu fisika belakangan ini bahkan tidak berhenti hanya pada 10 dimensi, masih ada dimensi yang lebih besar lainnya. Banyak konsep bermunculan, seperti pendekatan dengan teori membran dan sebagainya yang semakin menuju pada hasil unifikasi gaya-gaya yang mengatur seluruh alam semesta. Semua penjelasan ilmiah yang dibentangkan dalam artikel ini pada intinya adalah meyakinkan bahwa di luar panca indera yang terbatas, masih ada dimensi yang lebih tinggi dan belum dieksplorasi dan dirasakan. Cara berpikir dan bekerja sensor manusia, terbiasa dalam lingkup ruang dan waktu (empat dimensi). Pada kenyataannya, pikiran manusia tidak terbatas hanya pada ruang dan waktu tersebut. Sudah saatnya ilmu pengetahuan dan teknologi mengarahkan risetnya pada hal-hal yang “esoterik” yang dulu dikatakan sebagai “meta-rasional”, seperti adanya konsep aura, orbs, dan tenaga prana. Dengan demikian, tenaga prana dan metoda penyembuhan yang menggunakan media ini serta segala aspek aplikasinya bisa dikuantifikasi secara ilmiah bila A Theori of Everything telah ditemukan. Pada saat itu, tenaga prana akan terbuka tabirnya dan bukan lagi merupakan hal mistik, seperti anggapan sebagian masyarakat saat ini.

sumber: Fadli Syamsudin, Praktisi dan pengamat perkembangan tenaga prana, staf peneliti TISDA-BPP

Selamat Datang Menuju Masa Depan Cerah


Selamat datang menuju masa depan cerah.
Nama saya Prabowo EK. Di dunia online, saya lebih dikenal dengan nickname saya, MasterAura, yang sudah saya pakai sejak 2004. Ada dua makna dari nickname tersebut. Yang pertama, karena sejak 2004 saya biasa mengerjakan pesanan bikin web bisnis atau pribadi, dan salah satu skrip web/blog favorit saya adalah AuraCMS, bikinan anak negeri sendiri, sama-sama wong Semarang. Alhamdulillah, sudah ratusan web yang saya tangani sebagai “toekang bikin web moerah meriah sedjak 2004”. Lucunya, saya sendiri baru sempat bikin blog pribadi belum lama ini (sok sibuk mode on:).
Makna kedua dari nickname itu, karena saya punya kabisa, talenta lain diluar profesi utama saya sebagai praktisi medis. Saya sering diminta memperbaiki, menyelaraskan, dan mencerahkan aura orang. Mereka yang nasibnya belum beruntung, pecundang, pengangguran, yang susah cari kerja, yang kena PHK melulu, yang seret jodoh, yang nilai sekolahnya jeblok, wanita yang sering dilecehkan atau ogah diperkosa insyaallah dengan TERAPI AURA yang saya berikan dapat merubah kesialan, kegagalan, kemandekan, kemunduran menjadi keberhasilan, keselamatan, dan kemuliaan.
Dalam blog ini saya membatasi diri, hanya membahas tentang Aura manusia, terapi energi, terapi alternatif, dan soal kesehatan umum saja. Anda juga bisa share pengalaman anda tentang topik-topik tersebut. Selamat menikmati, dan selamat menggapai masa depan yang cerah.
Prabowo E.K

Natural Health Blogs - BlogCatalog Blog Directory